Rabu, 05 Maret 2014

SUMBANGAN ISLAM KEPADA ILMU PENGETAHUAN DAN PERADABAN MODERN

RESENSI BUKU SUMBANGAN ISLAM KEPADA ILMU PENGETAHUAN DAN PERADABAN MODERN
Oleh: Hasan Sobirin

Akhir-akhir ini , banyak pertanyaan dari berbagai kalangan, tentang metoda dakwah yang digunakan sebagian kaum muslimin,  yaitu dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Pertanyaannya, apakah memang  begitukah peradaban Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut sudah dipastikan membutuhkan jawaban yang panjang dan diperlukan penjelasan yang terus menerus terutama mengenai  sejarah Islam secara holistik dimulai dari peradaban Jahiliyah kemudian terus menuju masa-masa penaklukan hingga masa kejayaan (golden era) hingga akhirnya menemui masa  kemundurannya. Satu hal yang penting adalah membaca masa keemasan Islam adalah berhubungan dengan masa kegelapan Eropa (Dark Age), yaitu suatu masa yang tak berbentuk, tak berkarakter, yang berada di tengah-tengah Zaman Klasik dan Renaissans, yang oleh ahli sejarah disebut zaman “medium aevum”, Abad Pertengahan. Sebuah abad millenium yang kira-kira berusia dari tahun 500 – 1500 M,  dimulai dari perebutan kota Roma oleh Alarik, mengakibatkan kejatuhan Kekaisaran Romawi yang akhirnya Eropa Barat mengalami kemunduran secara terus menerus dari abad ke -3 hingga abad ke -8. Pada 330 M, Konstantin Agung memindahkan kekaisaran Roma ke Konstantinopel, kota yang dibangunnya di dekat Laut Hitam. Banyak yang mengganggap kota tersebut adalah  “Roma kedua”. Pada 395 M, kekaisaran Romawi terbagi dua  yaitu kekaisaran Barat dengan Roma pusatnya dan kekaisaran Timur dengan kota baru  Konstatinopel sebagai ibukotanya. Romawi Latin dan Persia Sassania adalah dua kerajaan yang adidaya dalam hal ekspansi militer, penerapan hukum, pencapaian budaya, pembangunan jalan, kehebatan arsitektur. Mereka adalah dua kekuatan hebat yang saling bertempur  dalam hal persenjataan, kelembagaan, kebudayaan yang di dalam nya semua bangsa Asia Minor wajib berpartisipasi.
Pada tahun 570 M, di Hijaz Jazirah Arab,  dari rahim Siti Aminah lahirlah bayi laki-laki yang dinamai Muhammad oleh kakeknya Abdul Muthalib. Mungkin, ibunya tak akan menyangka bahwa si kecil akan  merubah berbagai sudut kehidupan manusia tidak hanya di Mekkah, Jazirah bahkan seluruh jagad alam semesta. Islam adalah agama besar terakhir yang lahir dalam sejarah dunia, tidak terselubung oleh kabut dongeng dan khayal. Islam menemukan metodologi ilmiah yaitu metode empirik induktif dan percobaan yang menjadi kunci pembuka rahasia-rahasia alam semesta yang menjadi perintis modernisasi Eropa dan Amerika. Wahyu Allah kepada Muhammad yang pertama dimulai dengan Bacalah! Sejak awal kita diwajibkan untuk membaca. Selanjutnya ayat-ayat AlQuran banyak berisi pertanyaan “Apakah engkau tak berpikir?” (afalatatafakkarun) , “apakah engkau tak berakal?” (afala ta’qilun), serta sejumlah ayat lain yang menganjurkan  bahkan  mewajibkan belajar  dan mengajarkan ilmu.  Nabi mewajibkan Aisyah, Zaid ibn Tsabit bahkan membebaskan budak-budak belian untuk belajar membaca dan menulis. Untuk keperluan menyebarkan agama, maka terjadilah gerakan  “melek” huruf seperti belum ada bandingannya pada masa itu sehingga kepandaian baca tulis tidak lagi monopoli kaum cendikiawan dan bangsawan. Ini adalah langkah pertama gerakan ilmu secara besar-besaran.  Pada masa Penaklukkan meluaskan Dar-al Islam oleh para sahabat Nabi juga Kekhalifahan Umayah dan Abbasiah, Islam telah membentang dari Teluk Biskaya di sebelah barat hingga ke Turkestan (Tiongkok) dan India, melebihi imperium Romawi pada puncak kejayaannya. Jika pada mulanya gerakan ilmu itu hanya tertuju pada telaah agama, maka kajian ilmu berkembang menjadi lebih luas. Pada masa Kekhalifahan, perkembangan mempelajari ilmu menjadi lebih sistematik
Apa yang sudah dirintis oleh Dinasti Ummayah di Damaskus dilanjutkan oleh Dinasti Abbasiah di Baghdad. Khalifah Al Mansur telah memperkerjakan para penerjemah yang menerjemahkan buku-buku kedokteran, ilmu pasti, filsafat dan bahasa Yunani, Parsi dan Sanskrit. Pada Masa Khalifah Al Makmun, kegiatan itu diperhebat. Pada tahun 830 M, Khalifah Al Makmun bin Harun Al Rasyid mendirikan Darul  Hikmah atau Akademi  Ilmu pengetahuan pertama di dunia, terdiri dari perpustakaan, pusat pemerintahan, observatorium bintang dan universitas kedokteran (Darul Ulum). Al Makmun pun mengirimkan serombongan penerjemah ke Konstatinopel, Roma juga berbagai kota-kota lain. Diriwayatkan Al Makmum,pernah bermimpi  melihat sosok berkulit putih, kemerah-merahan sikapnya gagah duduk di singgasana. Orang dalam mimpi itu tak lain adalah Aristoteles. Mimpi itu menjadi inspirasi Al Makmun untuk mensosialisasikan literatur Yunani di lingkungan akademinya, kemudian penguasa  rajin mengadakan surat menyurat dengan Byzantium. Al Makmun mengutus tim kerja ke Yunani dan tak lama berselang utusan itu kembali dengan membawa buku yang diterjemahkan. Inilah awal mula penerjemahan di dunia arab pada masa Abad Pertengahan. Al Makmun pun mengundang para fisikawan, matematikawan, astronom, penyair, ahli hukum ahli hadist, musafir dari berbagai penjuru. Mereka diberi fasilitas dan perlindungan negara agar dapat mencurahkan seluruh perhatian kepada pengembangan ilmu dan pengetahuan.
Berbeda dengan Eropa pada masa Abad Pertengahan (Abad Gelap) dimana kekuasaan otoriter dimiliki oleh Gereja dan Kerajaan, Dar-al Islam sudah mendirikan universitas-universitas besar yang selama beberapa abad melebihi apa yang dipunyai Eropa Kristen. “Dunia ilmu pengetahuan banyak berutang budi kepada kaum Muslimin. Kemungkinan mereka yang menemukan apa yang disebut angka-angka Arab; Aljabar secara praktikan ciptaan mereka; mereka memajukan ilmu ukur sudut, optika dan ilmu bintang. Mereka juga yang menemukan lonceng gantung (pendulum); di bidang pengobatan mereka telah mencapai kemajuan istimewa; mereka sudah menyelidiki ilmu faal dan ilmu kesehatan, mereka sudah melakukan pembedahan-pembedahan tersulit yang pernah diketahui, mereka sudah mengetahui cara membius serta beberapa cara merawat orang sakit. Ketika Eropa  secara praktikal Gereja melarang praktek pengobatan, ketika upacara agama  seperti mengusir setan-setan  serta rekaan-rekaan  dianggap sebagai penyembuhan bagi penyakit-penyakit , ketika tukang-tukang obat palsu dan badut-badut amat banyaknya, di kala itu kaum Muslimin telah memiliki ilmu kedokteran yang sesungguhnya. (Herbert A Davis ). Untuk itulah, tidak ada sarjana-sarjana Muslim yang dipenjara, dibakar atau dibunuh berdasarkan inkuisisi Gereja (pengadilan iman)  seperti yang dialami Nicolas Copernicus, Giordano Bruno, Galileo Galilei, Miguel Servetto, juga ribuan wanita yang dibakar dengan tuduhan sebagai penyihir.
Banyak sekali kaum terpelajar Islam dari berbagai disiplin ilmu seperti Al Khawarizmi, Al  Biruni, Ar Razi, Hunayn ibn Ishaq, Ibnu Sina, Ibn Rusyd, At Thabari, Ibnu Khaldun, Al Farabi, Al Ghazali dan masih Banyak lagi. Berbagai pemikiran cendikiawan Muslim ini mempengaruhi kehadiran sains di Eropa, seperti misalnya Thomas Aquinas dan Benedictus Spinoza yang begitu terpengaruh dengan Ibn Rusyd. Ibn Rusyd lah yang membuka belenggu ke-taklid-an (tunduk dengan buta dan tuli) dan menganjurkan untuk kebebasan berpikir. Ibn Rusyd mengulas Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunatullah menurut pengertian Islam  terhadap pantheisme mitologi (seluruh alam diresapi ruh Tuhan, Tuhan ada di dalam segalanya). Ada pula dua bersaudara Francis Bacon dan Roger Bacon, mereka adalah sarjana Universitas Islam yang berjuang untuk mengenalkan sains (ilmu islam) di Barat. Dimana Barat pada saat itu masih tenggelam di dalam dogma gereja yang dominan dan akan mengadili setiap hal yang bertentangan dengan Gereja adalah perbuatan bidah , contohnya Gereja mendukung teori Geosentris_bumi sebagai pusat, Ptolemy yang bersebrangan dengan teori Heliosentris (Matahari sebagai pusat) karya Copernicus. Sarjana-sarjana tersebut mencoba membebaskan diri dari pemikiran dogma dan menjadikan fakta-fakta empirik sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Secara ringkas gerakan Islam yang bersumber dari Filsafat dan Sains tersebut membidani :
1.       Kebangkitan kembali (Renaissance) kebudayaan Yunani klasik pada abad 14
2.       Pembaruan Agama Kristen, abad 16 (Luther, Zwigli, Calvin)
3.       Gerakan Rasionalisme, abad 17 (Rene Decartes, Jhon Locke)
4.       Pencerahan (Aufklaerung, enlightenment), abad 18 (Voltaite, D, Diderot)
Dan yang menggemparkan dunia ilmu adalah pada tahun 1919 Miguel Asin Palacios memberikan tesis bahwa Divina Comedia Dante Alighieri  dipengaruhi olleh Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW berdasarkan karya gurunya  Abu Bakar Muhammad ibn Ali Muhyiddin Al Arabi.
Demikianlah pengaruh Islam dalam mewarnai dunia ilmu dan peradaban di Barat. Sabda Nabi adalah Al-‘imanu ‘uryan wa libasuhu at-taqwa wa zanatuhu al haya’nwa tsamaruhu al-‘ilm. (Adapun iman itu telanjang, sedangkan pakaiannya adalah takwa dan perhiasannya rasa malu serta buahnya adalah ilmu). HR Bukhari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaum Badui Arab

“Menurut Khalifah Umar Bin Khattab, orang-orang Badui lah yang melengkapi  Islam dengan bahan-bahan yang kasar”. Kaum Badui A...