Minggu, 02 September 2012

Hallo! Bandoeng by Wieteke Van Dort


Hallo Bandoeng – Wieteke Van Dort
Lagu ini mengisahkan hubungan telepon radio antara Hindia Belanda, khususnya pulau Jawa, dengan Netherland pada Januari 1929, berkat bantuan stasiun pemancar radio di Gunung Malabar Bandung yang dibangun sejak 1917 dan stasiun serupa di Kootwijk - Netherland.
Hubungan telepon radio dapat digunakan umum dengan biaya 33 Gulden untuk tiga menit pertama antara Netherland dan Netherland Indies, konon untuk bisa melakukan "hubungan" tersebut kita harus menabung selama 2 tahun.
Lagu ini bercerita tentang seorang nenek di Belanda yang tiap bulan nabung uang supaya dia bisa nelepon SLJJ anaknya di Bandung. Tapi setelah uangnya cukup buat nelefon, anaknya tidak bisa pulang karena sudah menikah dengan wanita pribumi dan juga sudah memiliki anak. Tapi akhirnya dia rela saat mendengar suara cucunya,walaupun dia menjadi sangat sedih.


‘t Oude moedertje zat bevend
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van hare zoon

refrain:
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
“Dag liefste jongen”, zegt zij met een snik
“Hallo, hallo!
Hoe gaat het oude vrouw?”
Dan zegt ze alleen:
“Ik verlang zo erg naar jou!”

Lieve jongen, zegt ze teder
Ik heb maandenlang gespaard
‘t Was me om jou te kunnen spreken
M’n allerlaatste gulden waard
En ontroerd zegt hij dan:
“Moeder Nog vier jaar, dan is het om
Oudjelief, wat zal ‘k je pakken
Als ik weer in Holland kom!”

refrain

“Jongenlief”, vraagt ze, “hoe gaat het Met je kleine bruine vrouw?”
“Best hoor”, zegt hij, “en we spreken
Elke dag hier over jou
En m’n kleuters zeggen ‘s avonds
Voor het slapen gaan een gebed
Voor hun onbekende opoe
Met een kus op jouw portret”

refrain

“Wacht eens, moeder”, zegt hij lachend “
‘k Bracht mijn jongste zoontje mee”
Even later hoort ze duidelijk
“Opoe lief, tabeh, tabeh!”
Maar dan wordt het haar te machtig
Zachtjes fluistert ze:
“O Heer Dank dat ‘k dat heb mogen horen…”
En dan valt ze wenend neer

“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
Ze antwoordt niet.
Hij hoort alleen ‘n snik
“Hallo! Hallo!…” klinkt over verre zee
Zij is niet meer en het kindje roept: “Tabeh”

Terjemahan lagu ini kira-kira adalah:

Hallo Bandung
Ibu tua bergetar sambil duduk
Di kantor telepon
Pegawai ramah berbicara:
“Nona, sebentar lagi Bandung akan menjawab”
Dengan kaki bergetar yang juga membeku
Dia mengambil mikrofon
Maka dia mendengar, “Oh, Ajaib!”
Alunan suara putra nya.

Reff:
“Hallo Bandung”
“Iya Ibu, saya disini!”
“Salam dari cucumu yang manis” katanya sedih
“Halo!”, “Halo!”
“Apa Khabar Bu?”
Kemudian dia berkata
“Saya sangat kangen kamu!”

“Anakku yang manis”, kata Ibu tsb dengan mesra.
“Saya menabung selama bulanan”
“Untuk bisa bicara sama kamu”
“Saya bersedia memberi gulden ku yang terakhir”
Dengan iba, anaknya menjawab:
“Ibu, empat tahun lagi aku akan selesai”
“Ibuku yang manis, aku akan menggendongmu”
“Kalau nanti saya sampai di Belanda lagi”

“Anakku yang manis, bagaimana khabar istrimu(wanita pribumi)?”
“Baik-baik saja Bu”, kemudian dia berkata “kami selalu membicarakan Ibu”
“Setiap hari kami membicarakan Ibu”
“Juga anak-anak kami setiap malam selalu berdoa untuk Ibu”
“Sebelum tidur sebuah doa”
“Untuk nenek yang belum mereka kenal”
“Mereka pun mencium potret mu”

Reff

“Tunggu Bu” katanya sambil tertawa.
“Ini saya membawa anak bungsu saya”
Kemudian terdengar jelas
“Nenek yang manis”, “Tabeh”, “Tabeh”
Tapi dia sudah tak tahan lagi
Dengan alunan suara yg keras dia berkata
“Oh Tuhan, terima kasih aku bisa mendengar suaramu!”
Kemudian dia jatuh sambil menangis.

“Halo Bandung!”
“Ibu! Saya disini”
Dia tidak menjawab
Dia hanya mendengar dengan sendu
“Halo” “Halo” bisa didengar dari laut jauh
Dia sudah tidak ada lagi dan anak bungsunya memanggil “Tabeh!”

2 komentar:

  1. Willy Derby - Hallo Bandoeng
    https://posmusica.wordpress.com/2020/03/23/willy-derby-hallo-bandoeng/

    BalasHapus
  2. setiap saya mendengarkan lagu ini, selalu tak terasa air mata bercucuran, membayangkan apa yang terjadi saat itu.

    BalasHapus

Kaum Badui Arab

“Menurut Khalifah Umar Bin Khattab, orang-orang Badui lah yang melengkapi  Islam dengan bahan-bahan yang kasar”. Kaum Badui A...