Sabtu, 28 Juli 2012

Raden Ngabehi Ranggawarsita (Diskusi di teater Salihara 28 Juli 2012 bersama Ki Herman Sinung Janutama)


RADEN NGABEHI RONGGOWARSITO

Islam bercorak mistis telah menjadi satu kekhasan di bumi nusantara. Kesuksesan Islam sebagai agama penebar kedamaian telah berhasil membaur dengan kebudayaan lokal  dimana mereka telah bersenyawa menjadikan sebuah kebudayaan yg indah. Kita bisa lihat kekhasan budaya Islam di Aceh, Padang, Makassar, Sunda, Mataram dll. Salah satunya adalah Eyang Ronggowarsito yang melahirkan ajaran filsafat hidup orang Jawa yaitu berbakti kepada sesama manusia dan memperindah jagad yang sudah indah ini. Raden Ngabehi Ronggowarsito hidup di kesunanan Surakarta, ia dianggap pujangga besar Jawa yang terakhir di tanah Jawa.

Raden:
Pemahaman kita tentang kata Raden adalah identik dengan Feodalisme, akan tetapi arti kata Raden yang sebenarnya adalah berasal dari kata rahadian atau roh-adi-an. Roh=ruh, adi=luhur, mulia. Jadi kata Raden ini berarti setara dengan radin= rasa, perasaan. Bisa juga mengacu kepada Radya= negeri, keraton, pemangku negeri. Gelar umum bagi para bangsawan Jawa (Nusantara) ini dulunya berarti pemangku negeri yang mencapai keluhuran ruhani dan kemuliaan akhlak. Bahkan juga berarti telah mencapai ketajaman perasaan dan kelembutan hati nurani.
Gelar Raden dahulu nya adalah menunjuk kepada kewajiban para pemangku negeri yakni para bangsawan atau pangeran di tanah Jawa yang memiliki komitmen moral dan spiritual. Sedemikian rupa sehingga mereka proporsional dalam memposisikan diri sebagai panutan moral, akhlak dan budi pekerti bagi masyarakatnya

Ngabehi:
Kata Ngabehi pada gelar Raden Ngabehi secara langsung menunjukkan posisi yang bersangkutan sebagai tokoh sesepuh atau orang yang dituakan di keraton (sultan atau susunan). Sebagai contoh gelar kebangsawanan pada mendiang GBPH Sandiya (Pangeran Samber Nyawa dr Mlangi yang berperang melawan Kumpeni selama 16 thn). GBPH kepanjangan dari Gusti Bendhara Pangeran Hangabehi. Beliau diposisikan sebagai sesepuh , kakak, atau saudara tua oleh mendiang Sri Sultan Hamenku Buwana I (1755-1812). Selain Raden Ngabehi (dianggap kakak) ada pula Raden Harya (dianggap adik, saudara muda) oleh keraton. Sebagai contoh gelar GBPH pada adik-adik Sri Sultan HB X ( dinobatkan 1989) yakni Gusti Yadiningrat atau Gusti Jayakusuma, GBPH pada gelar ini adalah kepanjangan dari Gusti Benhara Pangeran Harya.

Ronggowarsito:
Nama aslinya adalah Bagus Burham. Sewaktu muda Burham terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari (Ponorogo). Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon, ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.
Ketika pulang ke Surakarta, Burham diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV). Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom tanggal 28 Oktober 1819.

Silsilah Keturunan:

Kakek buyut Mas Burhan adalah Pengeran Wijil dari lingkungan ulama Kadilangu, Demak Bintara. Beliau adalah pelestari Kitab Jayabaya Kidung, dengan menuliskannya kembali dari tradisi lisan. Ayah Pangeran Wijil adalah Tumenggung Tirtawiguna, kakeknya adalah Tumenggung Sujanapura seorang pujangga dari Kraton Panjang. Tumenggung Sujanapura adalah adalah Putra dari Panembahan Tejowulan dari Jogorogo.. Panembahan Tejowulan adalah putra dari  Raden Arya Pamekas. Raden Arya Pamekas adalah putra dari Raden Patah (Bagus Kasan, Pangeran Jimbun). Dan Raden Patah adalah putra dari Prabu Brawijaya V (Sultan Terakhir Majapahit).

Keturunan dari Pangeran Wijil adalah Raden Ngabehi Yasadipura I (Pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat era Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV), memiliki putra Raden Ngabehi Yasadipura II (Ayah Ronggowarsito). Walaupun pujangga di lingkungan keraton, Yasadipura II adalah seorang senopati tempur era Perang Jawa (1825-1830). Beliau memimpin pertempuran di wilayah timur pesisir utara Jawa dengan gelar Raden Tumenggung Sastranegara. Sesuai pertempuran, Tumenggung Sastranegara tertangkap oleh Kumpeni dan dihukum mati di Batavia. Beliau dimakamkan dengan nama kecilnya yakni Sayyid Abubakar di kompleks pemakaman keramat Luar Batang, Jakarta.
Inilah keikhlasan Mas Burhan yang tidak menggunakan nama Raden Ngabehi Yasadipura III, akan tetapi menggunakan nama Raden Ngabehi Ronggowarsito. Nama Ranggawarsita berasal dari kata Rangga=senopati, panglima pertempuran. Warsita= wacana, wejangan, pengetahuan hidup. Berarti Mas Burhan (R.Ng. Ranggawarsita)  telah mengganti strategi perangnya melawan kumpeni dari perang senjata menjadi perang ilmu. Hal ini bersamaan dengan bangkitnya semangat menuliskan kembali peninggalan dan pengetahuan Jawa.

 Patung Rangga Warsita di depan Museum Radya Pustaka, Surakarta 
Perlawanan lisan ini diikuti pula oleh pemimpin tanah Jawa untuk mengirimkan ulama-cendikianya ke sekolah-sekolah di mancanegara. Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat mengirim ke sekolah di Mekkah (Agama) dan Netherland (Iptek). Strategi ini dicium oleh kumpeni dan mereka memecah belah dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk masyarakat (walaupun hanya sekolah rendah untuk pribumi dan lulusannya pun hanya diarahkan untuk menjadi pegawai negeri ataupun pegawai  administrasi rendahan di lingkungan kumpeni).

Kumpeni menembak mati R.Ng Ranggawarsita karen terlalu dianggap berbahaya bagi kolonialisme. Maka sang Panglima peperangan ilmu Jawa itu gugur pada 24 Desember 1873. Beliau mengikuti jejak ayah dan leluhurnya sebagai rangga (komandan pertempuran). R. Ng. Ranggawarsita dimakamkan di desa Palar Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Makamnya diziarahi oleh 2 presiden Indonesia ketika menjabat yaitu Presiden Soekarno dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

1.       Pamundhut hingsun mring sira
             Santana lan kawula kabeh hiki
 Hambak taler Jawa tuhu
 Tan hala haprayuga
 Gayuh suprih yem tentrem hayuning srawung
 Wajib netepana warah
 Waruking agama suci
               
             Nasehatku untuk kalian
 Kerabat dan rakyat semuanya ini
 Yang telah ditakdirkan menjadi orang Jawa (Nusantara)
 Tidak buruk, bukan utama
 Menciptakan terwujudnya ketentraman kehidupan sesama
 Wajib menetapi ajaran
 Petunjuk agama suci

2.       Narendra miwah pujangga
Wali lan pandhita jatine kaki
Karsaning Kang Maha Agung
Gunggunging Islam – Jawa
Marmane langgengna tunggal loro hiku
Ja-hana hingkang tinggal Jawa
Lan ja-hana hadoh agami

Para raja dan para pujangga
Sesungguhnya para wali dan ulama anakku
Atas Kehendak Yang Maha Agung
Agunglah Islam-Jawa
Karena itu lestarikan dwitunggal itu
Jangan sampai ada yang semata Jawa
Dan jangan sampai ada yang menjauhi agama

3.     Tinulis sajroning Qur’an
Hantepana dadya laku ban hari
Miwah waguning kadhatun
Tindakna klawan takwa
Wit kang mangkana sira jeneng geguru
Ratu habudaya Jawa
Wali panuntun agami

Yang telah tertulis di dalam Al-Quran
Mantapkanlah menjadi perilaku sehari-hari
Demi indahnya sebuah pemerintahan
Jalankanlah dengan takwa
Karenanya hendaklah engkau berguru
Para raja yang berbudaya Jawa
Juga adalah para wali penuntun agama.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaum Badui Arab

“Menurut Khalifah Umar Bin Khattab, orang-orang Badui lah yang melengkapi  Islam dengan bahan-bahan yang kasar”. Kaum Badui A...