Selasa, 13 Januari 2015

Elie Wiesel


Pemenang hadiah Nobel beragama Yahudi Elie Wiesel menjalani hidup hanya untuk Tuhan selama masa kanak-kanaknya di Hungaria. Hidupnya telah dibentuk oleh ajaran-ajaran Talmud dan dia berharap suatu hari akan diinisiasi untuk masuk ke dalam misteri Kaballah. Sebagai seorang anak laki-laki, dia dibawa ke Auschwitz dan kemudian ke Buchenwald. Pada malam pertamanya di kamp maut itu, menyaksikan asap hitam menggulung ke angkasa dari ruang gas/krematorium tempat ibunya dan saudara-saudaranya dilemparkan, dia tahu bahwa nyala api telah memadamkan imannya untuk selamanya. Dia berada dalam sebuah dunia yang berhubungan secara obyektif dengan dunia tak bertuhan seperti yang dibayangkan Nietzcshe. “Tak pernah kulupakan keheningan malam yang membinasakan hasrat hidup dari diriku untuk selamanya” Tulisnya beberapa tahun kemudian. “Takkan pernah kulupakan saat-saat yang telah membunuh Tuhanku dan jiwaku, menghancurkan mimpi-mimpiku”.

Suatu hari Gestapo menggantung seorang anak. Bahkan SS terusik oleh bayangan menngantung seorang anak kecil di depan ribuan penonton. Seorang anak, kenang Wiesel, berwajah “malaikat dengan sorot mata sedih”, membisu, pucat dan sangat tenang ketika naik ke tiang gantungan. Di belakan  Wiesel, seorang tawanan lainnya bertanya “ Dimanakah gerangan Tuhan? Dimana Dia?” Setengah jam kemudian anak itu mati sementara para tawanan dipaksa untuk melihat wajahnya. Orang tadi bertanya lagi: ”Dimanakah gerangan Tuhan sekarang?”. Dan Weisel menjawab : “Dia disini. Dia digantung disini di tiang gantungan ini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaum Badui Arab

“Menurut Khalifah Umar Bin Khattab, orang-orang Badui lah yang melengkapi  Islam dengan bahan-bahan yang kasar”. Kaum Badui A...