Kamis, 22 Desember 2011

Kang Jalal


JIKA ORANG TINGGI MENCAPAI PENGERTIAN, IA AKAN RENDAH HATI 

JIKA ORANG RENDAH MENCAPAI PENGERTIAN  IA AKAN TINGGI HATI

Ali Ibn Abi Thalib a.s


Kang Jalal
Di sebuah masjid kampung, seorang pemuda kota ikut bershalat Jumat. Setelah azan pertama, semua orang berdiri untuk melakukan shalat qabla Jumat, kecuali dia. Ia duduk mematung. Ia merasa semua orang memandangnya dengan pandangan permusuhan. Ketika hatinya resah, ia teringat sabda Nabi SAW: “ Akan datang padamu suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya sama dengan memegang bara api. Jika ia lepaskan, bara itu akan padam.”. Keresahannya berkurang. Ia sedang berjuang untuk menegakkan Sunnah Nabi SAW. Ia tidak mau bergabung Shalat Qabla Jumat, yang dipandangnya sebagai bid’ah. Lebih baik hatinya bergolak pada hari ini ketimbang mendidih dalam api neraka pada hari Akhirat.
Panas hatinya ternyata bukan hari itu saja. Ia dimusuhi penduduk kampung. Ia tidak diizinkan memberikan pengajian. Ia pernah diturunkan dari mimbar hanya karena mengajak orang kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Ia makin yakin bahwa ia ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pejuang penegak  Sunnah. Ia harus melawan semua permusuhan itu dengan tabah. Ia yakin pada akhirnya ia akan menang karena dia berada di pihak yang benar.
Dengan keyakinan seperti itu, ia masuk kedalam pengajian pertama di sebuah mesjid, di pinggiran Kota Bandung. Semula mesjid itu hanya diisi untuk shalat berjamaah. Berkat kehadiran seorang kiai dari Jawa Timur, pada setiap malam Jumat, penduduk kampung memenuhi mesjid. Tidak lama kemudian, dengan pimpinan kiai itu, terdengar gemuruh bacaan shalawat. Ia menggigit bibirnya. Begitu pula, ketika ditengah-tengah shalawat, pemuda itu diam. Ia tidak ikut bahkan walaupun hanya sekedar mengumamkan shalawat. Juga ketika semua orang berdiri, ia duduk membeku. Ia tahan perasaan tiddak enak karena menyimpang dari perilaku kelompok. Ia masih memegang bara. Inilah resiko “al-ghuraba” (orang-orang yang terasing). Bukankah Nabi SAW bersabda: “ Islam pertama kali datang sebagai sesuatu yang asing dan akan datang lagi sebagai sesuatu yang asing. Berbahagialah orang-orang yang asing; yakni mereka yang menghidupkan Sunnahku ketika orang-orang mematikannya
Kesabarannya berakhir ketika kiai sudah memberikan ceramah. Banyak hal yang disampaikan kiai itu didasarkan kepada TBC (takhayul,bid’ah,churafat) –ejaan lama untuk khurafat. Ia menginterupsinya berkali-kali. Ia meminta kiai itu untuk menunjukkan dalil-dalil dari Alquran dan hadis. Karena interupsi2nya, pengajian berubah menjadi hiruk pikuk. Karena merasa dilecehkan, kiai itu keluar dari masjid diikuti oleh pengikutnya. Pengajian itu bubar sebelum waktunya. Hampir-hampir saja tokoh kita ini (pemuda itu) dikeroyok oleh orang-orang beramai-ramai. Ia pun sudah memperhitungkannya. Sekiranya ia terbunuh karena amar-ma’ruf-nahi-munkarnya, ia mencapai cita-cita nya yang paling agung: Mati syahid!
Waktu itu ia tidak sendirian. Ada rekan-rekannya yang mempunyai keyakinan yang sama. Bersama mereka, akhinya ia berhasil “merebut” masjid itu. Azan awal pada shalat Jumat dihilangkan. Azan hanya dikumandangkan ketika khatib berdiri di mimbar. Usai azan, khatib langsung berkutbah sehingga tidak tersedia peluang bagi jamaah untuk melakukan shalat qabla Jumat. Dan pemuda itu menjadi khatib tetap di masjid itu. Sebagai catatan tambahan, perlu diberitahukan bahwa setelah masjid itu berganti pengurus, shalat Jumat hanya dihadiri tiga shaf saja. Hampir-hampir terjadi perkelahian massal untuk memperebutkan masjid, kalau saja bukan karena ketakutan warga kepada seorang perwira TNI yang mendukung pemuda tersebut.
            Tentara tidak selalu mendukungnya. Sekali waktu ia diinterogasi tentara di kantor Bakorstanasda, sebuah lembaga di luar konstitusi yang mempunyai hak mencabut kebebasan, dan juga nyawa warga negara. Ia dituduh bergabung dengan gerakan teror Warman. Tuduhan itu memang keliru. Ia tidak memiliki hubungan apapun dengan gerakan Warman. Tetapi ia sering memberikan ceramah yang dipandang ekstrem. Di berbagai mesjid di Bandung. Ia mengajak kaum muslim untuk menegakkan Syariat Islam, dengan demikian semua masalah yang dihadapi bangsa dapat segera diselesaikan. “Jika kamu menolong Allah, Allah akan menolong kamu” adalah ayat Alquran yang sering dia kutip. “ Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, ia termasuk orang yang kafir, zalim,fasiq!” adalah kalimat yang sering disampaikannya, sebagai paraphrase dari ujung ayat-ayat Al_Maidah 44,45,47.  


TIGAPULUH TAHUN KEMUDIAN……..


Ia sudah tidak jadi pemuda lagi. Ia sudah berusia lebih dari setengah abad. Beberapa lembar uban sudah mulai tampak di kepalanya. Ia sudah punya cucu, yang sering dibanggakannya di tempat-tempat yang kadang-kadang tidak relevan. Ketika shalat Jumat dimanapun, jika semua orang berdiri melaksanakan shalat qabla Jumat, Ia akan berdiri juga. Ia bukan saja berdiri ketika mambaca shalawat. Ia juga menyebarkan shalawat kemana-mana. Ketika ibunya meninggal dunia, ia menyelenggarakan tahlilan. Sebelumnya, dengan air mata yang dibiarkannya terus mengalir, ia membacakan talqin di atas pusaranya. Apa yang di masa mudanya dianggap bid’ah, sekarang dikerjakannya dengan sepenuh hati. Dan….mengejutkan banyak kawannya, ia tidak setuju dengan amandemen yang ingin memasukkan “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya”. Ia juga tidak setuju dengan pembentukan Negara Islam yang dulu menjadi mimpi besarnya. Dengan ukuran masa mudanya, ia sekarang sudah jauh “tersesat”. Sebagian kawannya sekarang menganggapnya begitu. Jafar Umar Thalib, tokoh Islam garis keras menyebutnya sebagai agen neoimperialisme yang akan menghancurkan umat Islam, agen Zionis yang dilatih Yahudi.
Gerakan “setan” manakah yang memasuki tokoh kita ini? Ia memang telah berubah dalam banyak hal: tubuhnya,usianya, status sosialnya, pendidikan, kawan bergaulnya. Tapi perubahan-perubahan itu bukanlah yang mengubah dia  menjadi dia yang sekarang. Mahzabnya boleh saja sudah berubah. Tapi bukan Mahzab itu yang mengantarnya pada posisi sekarang. Agamanya masih tetap Islam; tetapi caranya memandang Islam sudah berubah. Yang berubah adalah paradigma keber-agama-annya.
- Kang Jalal –

DAHULUKAN AKHLAK DIATAS FIKIH, Jalaluddin Rakhmat, Penerbit Mizan,Bandung, 2007, hal 33-36

Kaum Badui Arab

“Menurut Khalifah Umar Bin Khattab, orang-orang Badui lah yang melengkapi  Islam dengan bahan-bahan yang kasar”. Kaum Badui A...